(Copy Paste) Pertanyaan dan Jawaban Soal LTV

FREQUENTLY ASKED QUESTION (FAQ) FREQUENTLY ASKED QUESTION (FAQ) FREQUENTLY ASKED QUESTION (FAQ)
SURAT EDARAN BANK INDONESIA NO.  SURAT EDARAN BANK INDONESIA NO. 14/10/DPNP TANGGAL 15 MARET 2012 PERIHAL  14/10/DPNP TANGGAL 15 MARET 2012 PERIHAL
PENERAPAN MANAJEMEN RISIKO PADA BANK YANG MELAKUKAN PEMBERIAN KREDIT  PENERAPAN MANAJEMEN RISIKO PADA BANK YANG MELAKUKAN PEMBERIAN KREDIT  PENERAPAN MANAJEMEN RISIKO PADA BANK YANG MELAKUKAN PEMBERIAN KREDIT  PENERAPAN MANAJEMEN RISIKO PADA BANK YANG MELAKUKAN PEMBERIAN KREDIT
PEMILIKAN RUMAH DAN KREDIT KENDARAAN BERMOTOR PEMILIKAN RUMAH DAN KREDIT KENDARAAN BERMOTOR

1. 1.1. 1.  Apa Apalatar belakang latar belakang latar belakangpengaturan pengaturan pengaturanSSS Surat  urat  urat EEE Edaran daran daran     B BB Bank  ank  ank III Indonesia ndonesia ndonesiaini? ini? ini?
a.  Sejalan dengan semakin meningkatnya permintaan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dan
Kredit Kendaraan Bermotor (KKB) maka Bank perlu meningkatkan kehati-hatian dalam
penyaluran  KPR  dan  KKB  karena  pertumbuhan  KPR  dan  KKB  yang  terlalu  tinggi
berpotensi menimbulkan berbagai Risiko bagi Bank.
b.  Pertumbuhan KPR yang terlalu tinggi juga dapat mendorong peningkatan harga aset
properti  yang  tidak  mencerminkan  harga  sebenarnya  (bubble)  sehingga  dapat
meningkatkan Risiko Kredit bagi bank-bank dengan eksposur kredit properti yang besar.
c.  Agar  tetap  dapat  menjaga  perekonomian  yang  produktif  dan  mampu  menghadapi
tantangan  sektor  keuangan  dimasa  yang  akan  datang, perlu  adanya  kebijakan  yang
dapat  memperkuat  ketahanan  sektor  keuangan  untuk  meminimalisir  sumber-sumber
kerawanan yang dapat timbul, termasuk pertumbuhan KPR dan KKB yang berlebihan.
Kebijakan tersebut dilakukan melalui penetapan besaran Loan to Value (LTV) untuk KPR
dan Down Payment (DP) untuk KKB.

2. 2.2. 2.  Apakah ketentuan ini berlaku untuk seluruh kredit yang beragun properti dan rumah  Apakah ketentuan ini berlaku untuk seluruh kredit yang beragun properti dan rumah  Apakah ketentuan ini berlaku untuk seluruh kredit yang beragun properti dan rumah  Apakah ketentuan ini berlaku untuk seluruh kredit yang beragun properti dan rumah
tin tintin tinggal? ggal? ggal?
Tidak.  Ketentuan  ini  hanya  berlaku  untuk  kredit  pembelian  rumah  tinggal/
apartemen/rumah susun yang memiliki luas diatas 70M2.

3. 3.3. 3.  Mengapa LTV hanya diterapkan pada KPR untuk tipe di atas 70 m2? Mengapa LTV hanya diterapkan pada KPR untuk tipe di atas 70 m2? Mengapa LTV hanya diterapkan pada KPR untuk tipe di atas 70 m2? Mengapa LTV hanya diterapkan pada KPR untuk tipe di atas 70 m2?
Karena pada saat ini pertumbuhan KPR yg tertinggi adalah pada KPR untuk tipe lebih dari
70 m2

4. 4.4. 4.  Apakah ketentuan ini berlaku juga untuk debitur perusahaa Apakah ketentuan ini berlaku juga untuk debitur perusahaa Apakah ketentuan ini berlaku juga untuk debitur perusahaa Apakah ketentuan ini berlaku juga untuk debitur perusahaannn n??? ?
Tidak, karena kredit kepada perusahaan tidak digolongkan sebagai kredit konsumsi.

5. 5.5. 5.  Dengan dikeluarkannya ketentuan ini, apakah ketentuan terkait LTV yang diatur dalam  Dengan dikeluarkannya ketentuan ini, apakah ketentuan terkait LTV yang diatur dalam  Dengan dikeluarkannya ketentuan ini, apakah ketentuan terkait LTV yang diatur dalam  Dengan dikeluarkannya ketentuan ini, apakah ketentuan terkait LTV yang diatur dalam
S SS SE  No.13/6/DPNP  tentang  Pedoman  Penghitungan  ATMR  (SE  ATMR)  dan  E  No.13/6/DPNP  tentang  Pedoman  Penghitungan  ATMR  (SE  ATMR)  dan  E  No.13/6/DPNP  tentang  Pedoman  Penghitungan  ATMR  (SE  ATMR)  dan  E  No.13/6/DPNP  tentang  Pedoman  Penghitungan  ATMR  (SE  ATMR)  dan
No.12/38/DPNP  tentang  Pedoman  Penyusunan  SOP  Administrasi  KPR  No.12/38/DPNP  tentang  Pedoman  Penyusunan  SOP  Administrasi  KPR  No.12/38/DPNP  tentang  Pedoman  Penyusunan  SOP  Administrasi  KPR  No.12/38/DPNP  tentang  Pedoman  Penyusunan  SOP  Administrasi  KPR  dalam dalam dalam      rangka  rangka
sekuritisasi (SE Sekuritisasi), menjadi tidak berlaku? sekuritisasi (SE Sekuritisasi), menjadi tidak berlaku? sekuritisasi (SE Sekuritisasi), menjadi tidak berlaku? sekuritisasi (SE Sekuritisasi), menjadi tidak berlaku?
Tidak. Ketentuan mengenai LTV pada kedua SE tersebut tetap berlaku, yakni untuk KPR
dengan tipe kurang dari atau sama dengan 70 m2.

6. 6.6. 6.  Bagaimana penilaian agunan untuk menentukan LTV sebagaimana yang diatur dalam  Bagaimana penilaian agunan untuk menentukan LTV sebagaimana yang diatur dalam  Bagaimana penilaian agunan untuk menentukan LTV sebagaimana yang diatur dalam  Bagaimana penilaian agunan untuk menentukan LTV sebagaimana yang diatur dalam
SE ini SE ini??? ?
Penilaian  agunan  didasarkan  pada  penilaian  bank  pada  saat  pengikatan  agunan  di  awal
pemberian kredit.

7. 7.7. 7.  Bagaimana penghitungan nilai kredit untuk rasio LTV ini ? Bagaimana penghitungan nilai kredit untuk rasio LTV ini ? Bagaimana penghitungan nilai kredit untuk rasio LTV ini ? Bagaimana penghitungan nilai kredit untuk rasio LTV ini ?
Nilai  kredit  dihitung  dari  plafon  kredit  yang  diberikan  Bank  pada  awal  pemberian  KPR
sebagaimana tercantum dalam perjanjian kredit.

8. 8.8. 8.  Apakah bank tetap harus melaporkan penyesuaian nilai agu Apakah bank tetap harus melaporkan penyesuaian nilai agu Apakah bank tetap harus melaporkan penyesuaian nilai agu Apakah bank tetap harus melaporkan penyesuaian nilai agunan dengan harga pasar  nan dengan harga pasar
sesuai yang diatur dalam SE ATMR? sesuai yang diatur dalam SE ATMR?
Benar.  Bank  tetap  harus  melakukan  penyesuaian  nilai  agunan  dengan  nilai  pasar
sebagaimana yang diatur dalam SE ATMR.

9. 9.9. 9.  Bagaimana contoh konkrit penerapan ketentuan apabila bank memberikan KPR bagi  Bagaimana contoh konkrit penerapan ketentuan apabila bank memberikan KPR bagi  Bagaimana contoh konkrit penerapan ketentuan apabila bank memberikan KPR bagi  Bagaimana contoh konkrit penerapan ketentuan apabila bank memberikan KPR bagi
perumahan diatas 70 M2 dengan LTV diatas 70%
Contoh:
a.  Bank  A  memberikan  KPR  pembelian  rumah  yang  berukuran  75M2.  Nilai  rumah
berdasarkan pengikatan agunan adalah sebesar Rp1 milyar. Bank memberikan kredit
sebesar Rp600 juta, sehingga LTV dari kredit tersebut adalah sebesar 60%, maka bank
tidak dikenakan sanksi sesuai SE ini.
Sesuai SE ATMR dalam hal kredit tersebut memenuhi  kriteria untuk digolongkan ke
dalam kategori portofolio “Kredit Beragun Rumah Tinggal”, bobot risiko atas kredit
yang diberikan tersebut adalah sebesar 35%.
Namun  apabila  tidak  memenuhi  kriteria  untuk  digolongkan  ke  dalam  kategori
portofolio  “Kredit  Beragun  Rumah  Tinggal”,  maka  kredit  tersebut  digolongkan  ke
dalam kategori portofolio lainnya sesuai kriteria dari masing-masing kategori portofolio
tersebut.  Kategori  portofolio  lainnya  meliputi  “Kredit  Pegawai  atau  Pensiunan”,
Tagihan kepada UMKM dan Portofolio Ritel”, atau “Tagihan kepada Korporasi”.
b.  Bank  A  memberikan  KPR  pembelian  rumah  yang  berukuran  75M2.  Nilai  rumah
berdasarkan pengikatan agunan adalah sebesar Rp1 milyar. Bank memberikan kredit
sebesar  Rp800  juta  sehingga  LTV  dari  kredit  tersebut  adalah  sebesar  80%.
Berdasarkan ketentuan ini, bank akan dikenakan sanksi sesuai angka V SE.
Untuk  keperluan  perhitungan  modal,  dalam  hal  kredit  tersebut  memenuhi    kriteria
untuk  digolongkan  ke  dalam  kategori  portofolio  “Kredit  Beragun  Rumah  Tinggal”
maka kredit yang telah diberikan tersebut dikenakan bobot risiko sebesar 40%  dalam
perhitungan ATMR.
c.  Bank  A  memberikan  KPR  pembelian  rumah  yang  berukuran  75M2.  Nilai  rumah
berdasarkan pengikatan agunan adalah sebesar Rp1 milyar. Bank memberikan kredit
sebesar  Rp950  juta    sehingga  LTV  dari  kredit  tersebut  adalah  95%.    Berdasarkan
ketentuan ini, bank akan dikenakan sanksi sesuai angka V SE.  Sementara itu, dalam
perhitungan ATMR, apabila KPR tersebut bukan dalam rangka pelaksanaan program
perumahan  pemerintah  maka  kredit  tersebut  tidak  digolongkan  ke  dalam  “Kredit
Beragun Rumah Tinggal”, namun digolongkan ke dalam kategori portofolio lainnya
sesuai  kriteria  dari  masing-masing  kategori  portofolio  tersebut.  Kategori  portofolio
lainnya  meliputi  “Kredit  Pegawai  atau  Pensiunan”,  Tagihan  kepada  UMKM  dan
Portofolio Ritel”, atau “Tagihan kepada Korporasi”.

10. Dari  contoh  Dari  contoh  9  9 9  9  (a)  diatas,  apabila  setelah  kredit  (a)  diatas,  apabila  setelah  kredit  (a)  diatas,  apabila  setelah  kredit  diberikan  nilai pasar  rumah  tersebut  diberikan  nilai  pasar  rumah  tersebut
turun  menjadi  Rp700  juta  sementara  masih  terdapat  hutang  pokok  kredit  sebesar  turun  menjadi  Rp700  juta  sementara  masih  terdapat  hutang  pokok  kredit  sebesar  turun  menjadi  Rp700  juta  sementara  masih  terdapat  hutang  pokok  kredit  sebesar  turun  menjadi  Rp700  juta  sementara  masih  terdapat  hutang  pokok  kredit  sebesar
Rp550  juta  maka  LTV  kredit  tersebut  menjadi  79%.  Apakah  bank  dikenakan  sanksi  Rp550  juta  maka  LTV  kredit  tersebut  menjadi  79%.  Apakah  bank  dikenakan  sanksi  Rp550  juta  maka  LTV  kredit  tersebut  menjadi  79%.  Apakah  bank  dikenakan  sanksi  Rp550  juta  maka  LTV  kredit  tersebut  menjadi  79%.  Apakah  bank  dikenakan  sanksi
pelanggaran sesuai SE ini? Bagaimana perhitungan ATMR kredit te pelanggaran sesuai SE ini? Bagaimana perhitungan ATMR kredit te pelanggaran sesuai SE ini? Bagaimana perhitungan ATMR kredit te pelanggaran sesuai SE ini? Bagaimana perhitungan ATMR kredit tersebut? rsebut? rsebut?
Atas permasalahan tersebut;
a.  Bank tidak kenakan sanksi pelanggaran LTV sebagaimana diatur dalam SE ini.
b.  Perhitungan ATMR kredit tersebut tetap mengikuti SE ATMR sehingga ATMR kredit
dimaksud adalah sebesar 40%.
Perhitungan  ATMR  kredit  tersebut  tetap  mengikut  SE ATMR  sehingga  sepanjang  kredit
tersebut  memenuhi    kriteria  untuk  digolongkan  ke  dalam  kategori  portofolio  “Kredit
Beragun  Rumah  Tinggal”  maka  bobot  risiko  dalam  perhitungan  ATMR  kredit  dimaksud
adalah sebesar 40%.

11. Berapa DP untuk KKB k Berapa DP untuk KKB kendaraan yang digunakan untuk ojek ? endaraan yang digunakan untuk ojek ? endaraan yang digunakan untuk ojek ?
Motor  yang  digunakan  untuk  ojek  merupakan  kendaraan  bermotor  roda  dua  sehingga
aturan  DP  yang  dikenakan  untuk  pembelian  motor  adalah  sebesar  25%  sesuai  dengan
ketentuan butir IV.C.1 SE ini.

12. Berapa DP untuk KKB bagi per Berapa DP untuk KKB bagi perusahaan yang membeli kendaraan dinas untuk kegiatan  usahaan yang membeli kendaraan dinas untuk kegiatan  usahaan yang membeli kendaraan dinas untuk kegiatan  usahaan yang membeli kendaraan dinas untuk kegiatan
operasional ? operasional ?
Sesuai  dengan  ketentuan butir  IV.C.3  SE  ini, apabila KKB  diajukan oleh  perusahaan dan
kendaraan  digunakan  untuk  kegiatan  operasionalnya, maka  DP  yang  dikenakan  adalah
sebesar 20%.

13. Bagaimana Bagaimana      dengan  aplikasi  KPR  dan  KKB  yang  sudah  diterima  bank  sebelum  dengan  aplikasi  KPR  dan  KKB  yang  sudah  diterima  bank  sebelum  dengan  aplikasi  KPR  dan  KKB  yang  sudah  diterima  bank  sebelum  dengan  aplikasi  KPR  dan  KKB  yang  sudah  diterima  bank  sebelum
berlakunya SE ini namun saat SE ini berlaku masih dalam proses? berlakunya SE ini namun saat SE ini berlaku masih dalam proses? berlakunya SE ini namun saat SE ini berlaku masih dalam proses? berlakunya SE ini namun saat SE ini berlaku masih dalam proses?
Sesuai  dengan  angka  VIII  SE  ini,  maka  kredit  yang  sudah  mendapat  persetujuan  bank
namun  belum  dicairkan  sebelum  mulai  berlakunya  ketentuan  ini,  maka  tidak  terkena
ketentuan ini. Sementara kredit yang masih dalam proses namun belum ada persetujuan
bank saat SE ini mulai diberlakukan, wajib mengikuti ketentuan ini.

Semoga bermanfaat..

sumber: http://www.bi.go.id/NR/rdonlyres/F7698B4C-9C23-4F15-B1CF-B56118A6B8B8/25693/faq_SE_141013.pdf